BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Agama islam adalah agama pembawa pertolongan bagi umat manusia. Hal ini
tentu saja dibuktikan dengan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan pasca islam. Hal
ini bukan saja membawa dampak terangkatnya harkat umat manusia, akan tetapi
juga mengangkat martabatnya, baik secara moral, sosial, maupun intelektual.
Perkembangan islam dari tahun ke tahun sangat memukau, melewati gurun-gurun
pasir Arab sampai India, menyebrangi lautan sampai Eropa, dan bahkan mengarungi
samudra sampai nusantara. Perkembangan dan perluasan ini bukan hanya membawa
pengaruh-pengaruh islam secara teologis, melainkan juga membawa serta
pemikiran-pemikiran filosofis dari para pendahulunya.
Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, yang mana
hal ini tentu menyimpan banyak pertanyaan, khususnya bagi para pemerhati
filsafat. Apakah ada filsafat islam di Indonesia? Kalaupun ada, seperti apa
bentuknya? Siapa tokoh-tokoh yang terkenal dan siapa pula yang mempengaruhinya?
Makalah ini akan mencoba mengurai bentuk-bentuk filsafat islam di Indonesia.[1]
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana islam masuk ke Indonesia?
2.
Apakah makna filsafat Islam
Indonesia?
3.
Bagaimana perkembangan/ pembaruan Islam
indonesia?
4.
Bagaimana pemikiran tentang Islam di
indonesia?
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
Suatu kenyataan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan
secara damai. Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam
beberapa kasus disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer muslim. Mengenai
kapan, dari mana, dan dimana pertama kali Islam datang ke Nusantara terdapat
perbedaan pendapat sebagai berikut.
a.
Pendapat
pertama dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda, diantaranya Snouk
Hurgronje yang berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M
dari Gujarat (bukan dari Arab langsung) dengan bukti ditemukannya makam raja
kerajaan Samudera Pasai (Malik as-Sholeh)
yang dikatakan berasal dari gujarat.
b.
Kedua
dikemukakan oleh sarjana-sarjana muslim, diantaranya Prof. Hamka. Hamka dan
teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad
pertama Hijriah (± abad ke-7 sampai 8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur
pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad
ke-13 (Abad ke-7) melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina
(Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.
c.
Sarjana
Muslim kontemporer seperti Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat
tersebut. Menurut pendapatnya memang benar Islam sudah datang ke Indonesia
sejak abad pertama Hijriyah, tetapi baru dianut oleh pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan.
Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada
abad ke-13 dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini terjadi akibat
arus balik kehancuran Baghdad ibu kota Abbasiyah oleh Hulagu. Kehancuran Baghdad
menyebabkan pedagang Muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke Asia Selatan,
Asia Timur, dan Asia Tenggara.
Dari paparan diatas dapat dijelaskan bahwa tersebarnya Islam ke
Indonesia adalah melalui saluran-saluran sebagai berikut.
a.
Perdagangan,
yang mempergunakan sarana pelayaran.
b.
Dakwah,
yang dilakukan oleh mubalig yang berdatangan bersama para pedagang. Para mubalig itu bisa jadi juga para
sufi penggembara.
c.
Perkawinan,
yaitu perkawinan antara pedagang muslim dengan anak bangsawan Indonesia. Hal
ini akan mempercepat terbentuknya inti sosial, yaitu keluarga Muslim dan
masyarakat Muslim. Dengan perkawinan itu secara tidak langsung orang Muslim
tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat kharisma kebangsawanan.
d.
Pendidikan,
setelah kedudukan para pedagang mantap , mereka menguasai kekuatan ekonomi di
bandar-bandarseperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi
pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Pusat-pusat pendidikan dan dakwah Islam
di kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi
pelajar-pelajar dan mengirim mubalig lokal, diantaranya mengirim Maulana Malik
Ibrahim ke Jawa.[2]
Selain menjadi pusat-pusat pendidikan, yang disebut pesantren, di Jawa juga
merupakan markas penggemblengan kader-kader politik. Misalnya, Raden Fatah,
Raja Islam Pertama Demak, adalah santri pesantren Ampel Denta; Sunan Gunung
Jati, Sultan Cirebon pertama adalah didikan pesantren Gunung Jati dengan Syaikh
Dzatu kahfi; Maulana Hasanuddin yang diasuh ayahnya Sunan Gunung Jati yang
kelak menjadi Sunan Banten pertama.[3]
B. ASPEK FALSAFAH ISLAM
Falsafah islam dalam pegertian
falsafah yang dicetuskan oleh filosof Islam, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu
Sina, Ibnu Rusydi, dan lain-lain secara murni tidak pernah datang dan
berpengaruh di Indonesia. kalaupun ada adalah aspek falsafah yang mempengaruhi
tasawuf yang kemudian dikenal dengan istilah tasawuf falsafi.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang
menggunakan terminologi falsafah di luar islam seperti dari Yunani, Persi,
India, Nasrani, maupun dari Islam sendiriyang dari luar Islam mungkin dari
Socrates, Plato, Aristoteles, dan aliran Neo Platonisme dengan ajaran
emanasinya, ataupun falsafah Hermenitisme. Sedangkan, dari Islam seperti
falsafahnya Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi. Selain itu juga dipengaruhi
paham batiniah sekte islamiyah dari aliran Syi’ah, seperti ajaran-ajaran Ikhwal
al-Shofa. Di samping tentunya dilandaskan kepada ilmu-ilmu Isla, fiqih, kalam,
hadis serta tafsir. Tegasnya para tokoh tasawuf falsafi bersifat ensikopledis
dan berlatar belakang budaya, pengalaman dan pendidikan yang bermacam-macam.
Walupun demikian, keorisinilannya sebagai tasawuf tetap terjaga. Para tokohnya
berusaha dengan gigih untuk mengkompromikan ajaran-ajaran falsafah dari luar
Islam dengan tasawuf. Karena itu, dalam tasawuf falsafi banyak ajarannya yang
samar-samar, banyak ungkapan dan peristilahan khusus yang dipahami oleh
orang-orang yang mendalami ajaran tasawuf falsafi ini. Dengan demikian,
falsafah jenis ini sangat berbahaya bagi orang awam, karena dapat menjadi salah
dalam memahami, mungkin menjadi terjebak ke arah penyelewengan bahkan mungkin
menjadi tersesat yang mengarah kepada kekafiran.[4]
C.
PERKEMBANGAN PEMBARUAN DI INDONESIA
Bila melihat rentetan sejarah peradaban
Islam di Indonesia, maka akan ditemukan ada tiga periode perkembangan pemikiran
Islam di Indonesia, yaitu sebagai berikut.
Pertama, periode ketika kepemimpinan ulama sangat dominan di masyarakat
Muslim. Kepemimpinan ulama berlangsung sejak Islam datang ke Indonesia hingga
berlangsungnya masa penjajahan. Bahkan menjadi simbol perlawanan dalam
perang-perang besar melawan penjajah. Misalnya Fatahillah mengusir Portugis
dari Sunda Kelapa, Kiai Maja membantu perang Diponegoro, Imam Bonjol dalam
perang Padri.
Kedua, Peran ulama-ulama islam digantikan oleh pemimpin-pemimpin Islam
yang bergerak di bidang organisasi atau kepartaian dalam kepolitikan. organisasi
politik seperti Muhammadiyah yang
memiliki peranan penting dalam memperkenalkan modernitas terutama dalam
pendidikan. dengan mendirikan sekolah-sekolah formal (bukan pesantren lagi).
Model pendidikan tradisional (pesantren) diganti dengan model pendidikan Barat
(Belanda). Selain muncul golongan pembaru dalam Islam, muncul juga organisasi
tradisional yang terhimpun dalam Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang
dicetuskan oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah pada tahun 1926.
Yang semula menggunakan pesantren sebagai basis kegiatannya, melestarikan
tradisi-tradisi lama, bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Di Indonesia
mereka sering dikatakan mengikuti fiqih Syafi’i, akidah ahli sunnah wal
jama’ah, dan tasawuf Al-Junaedi, Al-Ghazali. Kitab-kitab mereka jadi rujukan
dalam beramal, beribadah dan bertasawuf. Walaupun begitu tidak selalu bermakna
konservatif, tidak modern, atau menolak modernitas. Dalam sisi tertentu mereka
sangat akrab dengan modernitas. Seperti menggunakan telepon seluler, komputer,
pesawat dan lain-lain, yang merupakan produk dari modernitas. Mereka disebut
tradisonalis lantaran metodologi keberagamannya yang berlandaskan pada warisan
pemikiran ulama masa lalu, seperti terlihat pada rujukannya pada kitab-kitab
kuning. Mereka mempunyai pedoman al-muhafadzah ala al-qadimi al-shalih, wal
ahzu ila al-jadidi al-ashlah (memelihara yang lama yang sah, sambil
mengambil yang baru yang lebih baik).
Ketiga, periode kebangkitan intelektual Muslim, yakni saat peran politisi
intelektual Muslim dipertanyakan di hadapan kekuasaan, sistem politik waktu itu
(Orde baru). Sudah dimulai pada tahun 1970, ditandai dengan munculnya beberapa
literatur yang mencoba mencermati secara sistematis perkembangan dunia
intelektual Muslim Indonesia. Namun, dalam masa berikutnya zaman kebangkitan
intelektual ini mempunyai macam corak pemikiran. Mereka itu adalah sebagai
berikut.
1.
Neo
modernisme, yaitu pemikiran keislaman yang menggabungkan dua aliran modernisme
dan tradisionalisme, tokohnya adalah Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid, dan
Ahmad Wahib.
2.
Sosialisme
demokrat, yaitu gerakan yang melihat keadilan sosial dan demokrasi sebagai
unsur pokok Islam. Tokoh-tokohnya: Dawam Raharjo, Adi Sasono, Kuntowijoyo.
3.
Universalisme,
gerakan pemikiran Islam yang memandang Islam sebagai perangkat nilai alternatif
dari kemerootan nilai-nilai Barat. Tokoh-tokohnya adalah: Amien Rais,
Jalaluddin Rahmat, dan A.M. Saefudin.
4.
Neo
revivalis, sering dikatakan dengan gerakan Ikhwan al-Muslimin, dalam beberapa
organisasi seperti Hamas, Hizbut Tahrir. Front Pembela Islam(FPI) Majelis
Mujahidin. Meski mereka berbeda-beda, tetapi secara umum mereka adalah kelompok
yang “menjaga jarak” dengan peradaban Barat, Barat adalah musuh. Maka
simbol-simbol identitas dan peradaban senantiasa digunakan dalam kesadaran
keberagamannya, misalnya berjenggot, bersorban, dan lain-lain.[5]
D.
PEMIKIRAN ISLAM EMPAT MADZHAB INDONESIA (NURCHOLIS MAJID,
ABDURRAHMAN WAHID, AMIEN RAIS, DAN JALALUDDIN RAHMAT)
1.
Nurcholis Majid dan Pemikirannya
Nurcholis Madjid ataupun yang akrab dengan sapaan Cak
Nur, lahir di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939 M. Beliau adalah
staf pada Lembaga Ilmu Pengetahuan
(LIPI), Jakarta. Juga, menjadi dosen di Fakultas Adab dan Pasca sarjana IAIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta. Pendidikannya dimulai di Pesantren Rejoso, Jombang, dan
kemudian di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Melanjutkan studinya ke Fakultas
Sastra dan Kebudayaan Islam Jurusan Sastra Arab IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dan tamat pada tahun 1968. Sejak tahun 1978-1984 melanjutkan pendidikan
doktoralnya di University of Chicago dan meraih gelar Ph.D. Pernah menjabat
sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam selama dua periode
(1966-1969 dan 1969-1971), Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara,
dan Asisten Sekretaris Jenderal International Islamic Federation of Students
Organizations (IIFSO). Pengakuan atas perannya dalam kancah pemikiran keislaman
di Indonesia tampak pada kenyataan dijadikannya pemikiran-pemikiran tokoh ini
sebagai bahan beberapa disertasi doktoral sekaligus, disamping
pembahasan-pembahasan dalam setiap karya tulis mengenai masalah tersebut. [6]
1.1.
Modernisasi: Tinjauan Islami
Pengertian yang mudah tentang
modernisasi ialah pengertian yang identik, atau hampir identik, dengan
pengertian rasionalisasi. Dan hal itu berarti proses perombakan pola berpikir
dan tata kerja lama yang tidak akliah. Kegunaannya ialah untuk memperoleh
daya-guna dan efisiensi yang maksimal. Hal itu dilakukan dengan menggunakan penemuan
mutakhir manusia di bidang ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kiranya menjadi
mantaplah keyakinan kita, bahwa modernisasi, yang berarti rasionalisasi untuk
memperoleh dayaguna dalam berpikir dan bekerja yang maksimal, guna kebahagiaan
umat manusia, adalah perintah Tuhan yang imperatif dan mendasar.[7]
1.2.
Rasionalisme dan Agama Baru (Humanisme)
Rasionalisme adalah suatu paham yang
mengakui kemutlakan rasio, sebagaimana yang dianut oleh komunis. Maka, seorang
rasionalis adalah seorang yang menggunakan akal pikirannya secara
sebaik-baiknya, ditambah dengan keyakinan bahwa akal pikirannya itu sanggup
menemukan kebenaran, sampai yang merupakan kebenaran terakhir sekalipun.
Sedangkan Islam hanya membenarkan rasionalitas, yaitu dibenarkannya menggunakan
akal pikiran oleh manusia dalam menemukan kebenaran-kebenaran. Menurut Islam
sekalipun, rasio dapat menemukan kebenaran-kebenaran, namun kebenaran-kebenaran
yang relatif, sedangkan kebenaran yang mutlak hanya dapat diketahui oleh
manusia melalui sesuatu yang lain yang lebih tinggi daripada rasio, yaitu wahyu
(revelation) yang melahirkan agama-agama Tuhan, melalui Nabi-nabi.[8]
1.3.
Westernisme, Liberalisme, dan komunisme
Kita sepenuhnya berpendapat bahwa
modernisasi ialah rasionalisasi yang ditopang oleh dimensi-dimensi moral,
dengan berpijak pada prinsip iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, kita
juga sepenuhnya menolak pengertian yang mengatakan bahwa modernisasi ialah
westernisasi, sebab kita menolak westernisasi.
Dan sudah pasti, kita tidak menolak
ilmu pengetahuan yang benar, dan juga teknologi, sekalipun berasal dari Barat,
bahkan sekalipun berasal dari komunis. Sebab ilmu, pengetahuan dan teknologi
sama sekali tidak dapat dikatakan dimonopoli oleh Barat, apalagi disebut
westernisme. Malahan dalam hal ilmu pengetahuan, Nabi Muhammad memerintahkan
umatnya untuk mencari nya dimana saja, “meskipun ke negeri Cina”.
Malahan sudah menjadi pengakuan yang
umum sekali sekarang ini, bahwa kemajuan Barat adalah berkat ilmu pengetahuan
kaum muslimin di zaman keemasannya. Supremasi Islam dimuka bumi, dua kali lebih
panjang lamanya daripada supremasi Barat sekarang ini.
Cabang-cabang sekulerisme antara
lain, ialah liberalisme. Bila diukur dengan ajaran Tuhan Yang Maha Esa, liberalisme
adalah suatu ajaran yang sesat yang harus ditentang. Mengenai ajaran
liberalisme tentang kemerdekaan individu, tentu patut dihargai. Tetapi bahwa
kemerdekaan itu tak terbatas, adalah suatu hal yang sangat membahayakan
kehidupan bermasyarakat.
Liberalisme mengakibatkan individualisme,
dan individualisme mengakibatkan kapitalisme. Maka dalam kapitalisme inilah
kita dapati prinsip lemerdekaan dinodai sedemikian rupa, sehingga tinggal
sebagai semboyan belaka. Orang-orang kapitalis berbicara tentang “kemerdekaan
ekonomi”: kebebasan setiap orang untuk mengumpulkan harta kekayaan dan
menggunakannya sebagai modal, tanpa menentukan norma moral bagaimana harta
kekayaan itu diperoleh. Bagi mereka tidak ada harta yang halal maupun yang
haram.
Komunisme adalah bentuk lain dan
lebih tinggi dari sekularisme. Sebab, komunisme adalah sekularisme yang paling
murni dan konsekuen. Dalam konsumenismelah seseorang menjadi ateis sempurna. Kaum
komunis membenarkan, malah mendasarkan keseluruhan ajarannya pada prinsip
persamaan diantara manusia. Tetapi prinsip persamaan dalam komunisme itu pun
mengalami nasib yang sama dengan prinsip kemerdekaan dalam kapitalisme. Kaum
komunis menodai prinsip persamaan itu sebegitu rupa, sehingga tinggal semboyan
semata-mata. Malahan yang terjadi ialah adanya supremasi-mutlak pihak penguasa
atas pihak yang dikuasai, yaitu rakyat pada umumnya.
Karena kapitalisme dan komunisme itu
tidak benar, maka kita sekarang menyaksikan pergeseran-pergeseran di dalam
keduanya. Sebab, manusia tidak mungkin bisa bertahan sepenuhnya dalam suatu
prinsip dan dalam ajaran yang kebenarannya tidak mutlak. Sekarang ini kita
lihat bahwa negara-negara kapitalis makin menunjukkan gejala sosialistis.
Sebaliknya, negara-negara komunis, dari hari kehari menjadi liberalis.[9]
1.4.
Snoukisme: Pengalaman Berharga Bagi Bangsa Indonesia
Seperti diketahui, Pemerintah
kolonial belanda memberikan pendidikan kepada pribumi Hindia Belanda, dan
mendirikan sekolah-sekolah, sejak dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi.
Hal-hal itu dilakukan dalam rangka “Politik Sopan”-nya (Ethical Policy).
Hal ini memaksa kita untuk kembali ke sejarah lebih jauh lagi.
Dalam menjalankan “Politik Sopan”
inilah pandangan-pandangan seorang ahli islam (Islamologi) terkenal, Snouck Hurgronje,
sangat berpengaruh. Ketika menasehati pemerintah kolonial belanda, untuk
menghadapi umat islam indonesia, Snouck Hurgronje mengemukakan pendapatnya
bahwa Pemerintahan Kolonial harus mengembangkan sikap netral terhadap Islam
sebagai agama, dan sikap keras-tegas terhadap Islam sebagai gerakan politik,
dan pemerintah kolonial sekaligus harus merangkul golongan-golongan dalam
masyarakat Indonesia yang agak tipis keislamannya: yaitu kaum elite
tradisional, pemimpin-pemimpin kaum adat di luar Jawa, dan kaum priyayi di Jawa.
Kesemuanya itu ditempuh semata-mata untuk memperkokoh kolonialisme Belanda di
bumi Indonesia.
Tetapi, hal itu semua hanyalah
permulaan politik Belanda lebih lanjut: yaitu sepenuhnya menghancurkan Islam,
dan mengusirnya dari bumi Hindia Belanda. Sebab, seperti dikatakan oleh Dr.
Harry J. Benda: “... selama bangsa indonesia, terutama pemimpin-pemimpinnya,
masih tetap merupakan orang-orang Muslim, maka hubungan kolonial selamanya
tidak akan dapat memberikan jalan bagi adanya ikatan yang abadi antara Indonesia
dan Negeri Belanda”.
Lebih dari itu, dan inilah intisari
filsafat kolonialismenya Snouck Hurgronje. Indonesia harus dimodernisasikan,
dijadikan modern. Dan seperti juga dikatakan oleh Snouck, “Oleh karena
Indonesia modern itu, menurut batasannya, tidak mungkin merupakan Indonesia
Islam, dan tidak pula merupakan Indonesia yang diperintah oleh adat, maka harus
merupakan Indonesia yang di Baratkan.[10]
1.5.
Nilai-Nilai Keislaman: Harta Berharga Bangsa Indonesia
Dalam keadaan inilah rakyat
Indonesia didorong oleh suatu kewajiban mencari kepribadian nasional (national
identity), sebagai langkah yang pertama-tama harus diambil dalam rangka
mengisi kemerdekaan. Sebab, bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib sesuatu
bangsa sebelum mereka mengubah apa yang ada pada jiwa mereka, yaitu berupa set
of ideas, attitudes and convictions (sekumpulan pikiran, sikap, dan
keyakinan).
Di antara milikan nasional itu,
secara obyektif, yang paling menonjol ialah keislaman. Keislaman inilah yang
telah mampu menjadikan dirinyasebagai simbol kebangkitan bangsa dalam menentang
penjajahan, semenjak ekspedisi Patih Unusdari kerajaan Demak untuk mengusir
penjajahan Portugis dari malaka, sampai lahirnya partai dan gerakan politik
dengan organsasi massa yang modern yang pertama kali di Indonesia (PSII),
dibawah pimpinan Pak Cokro dan pak H.A Salim, yang menjadi sumber inspirasi dan
aspirasi seluruh gerakan nasional patriotik dan revolusioner di Indonesia
menjelang kemerdekaan tahun 1945.
Dari segi inilah kita harus menilai
mutlaknya gerakan-gerakan Islam dalam Indonesia merdeka ini, semenjak dari
Partai Politik Islam Masyumi sebagai satu-satunya partai politik Islam ditahun
permulaan kemerdekaan, sampai partai-partai Islam yang ada sekarang ini, yaitu
NU, PSII, Partai Muslimin dan Perti. Di samping itu, juga organisasi-organisasi
massa Islam, baik yang bergerak di bidang pendidikan, kesejahteraan sosial dan
lain-lain, maupun di bidang kemahasiswaan dan kepelajaran.
Organisasi-organisasi kemahasiswaan
dan kepelajaran Islam berfungsi sebagai pelengkap pendidikan di sekolah atau
fakultas/akademi, ditanamkan kewajiban untuk mengikis habis sisa-sisa Snockisme
yang meracuni kehidupan bangsa Indonesia. organisasi-organisasi ini bertugas
menghilangkan dualisme keislaman dan keterpelajaran (intelektualitas). Sehingga
terbentuklah kelak sarjana-sarjana Musim, dimana keislaman dan intelektualitas
berpadu.[11]
2.
ABDURRAHMAN WAHID DAN PEMIKIRANNYA
2.1.
Riwayat Hidup Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Abdurrahman
Ad-dakhil bin Wahid Hasyim bin Hasyim Asy’ari, demikian nama lengkap dari
Abdurrahman Wahid yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, adalah
sosok yang lahir dan berkembang dari
suatu kombinasi kualitas personal yang tidak lazim, sebagian juga karena
faktor-faktor lingkungan, setidaknya dari latar belakang keluarganya.
Sosok yang
pernah menjadi presiden RI ini lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada
tanggal 4 Agustus 1940. Ia adalah putra dari mantan menteri agama RI pertama, K.H. Hasyim Asy’ari adalah ulama
besar pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur dan pernah memangku
jabatan Rais Akbar pengurus besar
Nahdlatul ‘Ulama.
Sementara itu
kakek dari pihak ibunya, K.H. Bisri Syamsuri, juga pengasuh pondok pesantren di
Denanyar, Jombang dan pernah memangku jabatan Rais ‘Am pengurus besar Nahdlatul
‘Ulama. Kedua kakek Abdurrahman Wahid inilah yang merupakan tokoh dan kyai cikal-bakal
pendiri organisasi keagamaan Nahdlatul ‘Ulama (NU), disamping K.H.A. Wahab
Hasbullah.
Dalam banyak
aspek Abdurrahman Wahid seakan memang telah di persiapkan sebagai “putra
mahkota” yang kelak akan memimpin Nahdlatul ‘Ulama sebagai pewaris cita-cita
ayah dan kakeknya. Idealisme yang di cita-citakan ayahnya, K.H. Wahid Hasyim
terhadap putranya initergambar jelas dari nam yang dibrikannya : Abdurrahman
Ad-dakhil. Secara leksikal ad-dakhil berarti sang penakluk, sebuah
nama yang diambil K.H. Wahid Hasyim dari seorang perintis dinasti bani Umayyah
yang telah menancapkan tonggak kejayaan islam di Spanyol berabad islam.
Sejak kecil
Abdurahman Wahid sudah diberi pengetahuan dan pendalaman agama serta perasaan
tanggung jawab terhadap Nahdlatul Ulama. Di ambang usianya yang masih sangat
muda (12 tahun), perasaan tangung jawab ini secara dramatis semakin menguat
ketika harus menyaksikan kematian ayahnya dalam kecelakaan mobil.
Setamat Sekolah
Dasar di jakarta tahun 1953, Abdurrahman Wahid melanjutkan pendidikanyaa pada
Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Yogyakarta daan lulus tahun 1957,
sambil sesekali belajar mengaji paada K.H. Ali Maksum di krapyak, walaupun ia
sendiri tinggal di rumah pemimpin modernis, K.H. Junaid, seorang ulama yang
merupakan anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah.
Pendidikan
keagamaan selanjutnya diasah di beberapa pondok pesantren Nahdlatul Ulama
terkemuka, antara lain di pesantren tegalrejo, magelang dengan menyelesaikan
waktu belajarnya kurang dari separo waktu santri pada umumnya (1957-1959). Dari
tahun 1959 sampai 1963, ia belajar di Mu’allimat bahrul ‘Ulim, pesantren tambakberas,
jombang, jawa timur kepada K.H. Wahab Hasbullah. Berikutnya ia kembali ke Yogyakarta untuk mondok di
pesantren Krapyak, dan tinggal di rumah pimpinan Nahdlatul Ulama terkemuka K.H.
Ali Ma’shum setelah itu, ia memperdalam ilmu-ilmu Islam dan sastra di
Universitas al-Azhar, Kairo (Mesir), kemudian pindah ke Fakultas Sastra
Universitas di Baghdad.
Berbeda dengan
ulama-ulama tradisional lainnya yang lebih senang mengungkapkan ide-ide dan
pemikiran melalui lisan atau ceramahnya, Abdurrahman Wahid juga mengungkapkan
pemikirannya dengan tulisan. Bunga Rampai Pesantren (1979)dan Muslim di Tengah
Pergumulan (1981) adalah karya-karya yang menjadikan sosok Abdurrahnman Wahid
dikenal dengan keintelektualannya.
Hingga saat ini
esai dan artikel yang telah ditulis oleh Abdurrahman Wahidtidak terhitung
jumlahnya. Kyai Nyentrik Membela Pemerintah (1997), Tabayun Gus Dur (1998),Prisma
Pemikiran Gus Dur (1999), Membangun Demokrasi (1999), islam, Negara, dan
Demokrasi : Himpunan Percikan Perenungan Gus Dur (1999), Tuban Tidak Perlu Di
Bela (1999)adalah contoh esai-esai Abdurrahman Wahidyang sudah diterbitkan.
2.2
Aspek dan Pola Pemikiran Abdurrahman Wahid
Abdurrahman
Wahid merupakan seorang kyai yang di didik dan di tempa oleh berbagai ulama,
pemikiran dan lingkungan yang beragam.sejak kecil ia sudah menampakkan
kecerdasannya dengan banyaknya buku- buku sosial yang ia baca. Almari bekas
kamar ia belajar di pondok pesantren masih tersisa buku- buku sosial yang tidak
sedikit berbahasa inggris.
Dengan gaya
kontraversialnya, Abdurrahman Wahid mampu tampil menjadi top leader pembaharu bagi
lingkungan yang ia jalani. Walau demikian, pemikiran dan perilaku
kontraversialnya kerap kali mengundang pertanyaan dan membuat banyak orang
bingung, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap sosok ini.
Kelompok- kelompok yang berada diluar pemikirannya banyak yang menyatakan bahwa
pemikiran- pemikiran Abdurrahman Wahid sebagai pemikiran yang tidak Rasional
yang membahayakan, diluar kebenaran dan pantas untuk ditentang. Sikap dan
pemikiran kontroversialnya menyebabkan tidak sedikit kalangan islam dari
kelompok ini yang menyatakan bahwa Abdurrahman Wahid adalah agen zionis, sosok
yang merusak pemahaman tentang islam.
Di balik
pemikiran dan tingkah laku Abdurrahman Wahid yang kontroversial dan membuat
resah bahkan dikecam masyarakat, ada satu kekuatan yang menjadikan posisi
Abdurrahman Wahid tetap eksis terutama di kalangan masyarakat Nahdlatul ‘Ulama,
yaitu loyalitas dan penghormatan yang tertinggi terhadap para ulama. Disamping
memang ia keturunan ulama besar, dia tahu persis bagaimana mendekati dan
meyakinkan ulama bahwa apa yang
dilakukannya adalah benar atau sesuai dengan zaman.
Ide dan
pemikiran yang dilontarkan Abdurrahman Wahid saat ini tidak akan lepas dari
latar belakang dan pengalaman pribadi yang dialaminya. Dia sendiri mengakui
bahwa karakter dan pemikirannya bukan dibentuk dirinya atau seseorang, namun
dibentuk oleh keseluruhan lingkungan yang mengitarinya, seperti: pesantren, dan
lainnya.
Al Zastrouw
mengatakan bahwa Abdurrahman Wahid mengalami tiga lintasan budaya yang berbeda
dan membentuk karakter dan pemikirannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama,
Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hirearkis,
tertutup dan penuh dengan etika yang serba formal. Kedua, dunia Timur
Tengah yang terbuka dan keras, Ketiga, budaya Barat yang Liberal,
rasional, dan sekuler.
Abdurrahman
Wahid berasal dan di besarkan dalam kelompok tradisionalis. Namun disebabkan
beberapa fase mobilitas intelektual yang dialaminya, ia relatif berhasil
membuat jarak antara sosok
intelektualitasnya dengan alam pemikiran sebagian besar para pendukung sayap
tradisionalis dan justru dengan itu, ia mampu melihat kelemahan-kelemahan kaum
modernis. Dalam posisinya yang semacam itulah, ia mampu membuat jarak
intelektual, baik dengan kaum tradisionalis, maupun dengan kaum modernis.
Dengan gaya
kontroversinya, Abdurrahman wahid mampu tampil menjadi top leader pembaharu
bagi lingkungan yang ia jalani. Walaupun demikian, pemikiran dan perilaku
kontroversialnya kerapkali mengundang banyak poertanyaan dan membuat banyak
orang bingung, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap sosok ini.
Kelompok-kelompok yang berada diluar jalur pemikirannya banyak yang menyatakan
bahwa pemikiran-pemikiran Abdurrahman wahid sebagai pemikiran tidak rasional
yang membahayakan, diluar kebenaran dan pantas untuk ditentang. Sikap dan
pemikiran kontroversialnya menyebabkan tidak sedikit kalangan islam dari
kalangan ini yang menyatakan bahwa Abdurrahman wahid adalah agen zionis, sosok
yang merusak pemahaman tentang islam.
Di sisi lain,
bagi mereka yang mencintai, mendukung dan bersama-sama dalam barisan
pemikirannya akan semakin kagum dan terbuai dalam irama pemikiran dan perilaku
Abdurrahman wahid, walau tanpa ia sadari
wacana pembelaan adalah suatu bentuk taklid buta. Bahkan lebih dari itu, mereka
yang tergolong sebagai pendukung “setia” tidak sedikit yang menyatakan dan
yakin bahwa sosok Abdurrahaman wahid merupakan auliya (waliyullah) yang
mempunyai ilmu laduni sehingga setiap ucapan dan perilakunya merupakan sebuah
keniscayaan.
Ketika menimba
ilmu bersama kyai chudlori di Tegalrejo, Abdurrahman wahid diperkenalkaan dalam
ritus-ritus sufi dan praktek-praktek ritual mistik secara mendalam. Dengan
menggunakan ritual dan waktu tertentu, misalnya dengan menggunakan perhitungan
hari Arab yang digabung dengan hitungan jawa seperti Jum’at Legi, ia mulai
melakukan ziarah ke beberapa kuburan keramat para wali di jawa dibawah
bimbingan kyai chudlori dan berlangsung kurang lebih dua tahun, setelah itu ia
kembali ke jombang dan menimba ilmu-ilmu keagamaan di pesantren kakeknya, tambak
berasdan beberapa pesantren terkemuka lainnya sebelum akhirnya ia terbang ke
timur tengah.
Walaupun ia
merasa jenuh ketika belajar di Mesir dan waktu yang ada ia gunakan untuk
membaca buku dan selebihnya nonton film, ada situasi yang menguntungkan dan turut
membentuk karakter perilaku Gus Dur. Dan dari sinilah Gus Dur menemukan
pemikiran-pemikiran muslim modern secara langsung di Mesir. Di Mesir pulalah ia
memperoleh paham sosialisme yang berbudaya. Gus Dur mengatakan bahwa
orang-orang Arab sering mempersoalkan sosialisme dari sudut budaya.
Kepindahannya
ke Universitas Baghdad, Irak ternyata menambah wacana pemikirannya. Ia
merasakan perbedaan yang lebih baik daripada ketika belajar di Mesir. Di
Baghdad masyarakat Arab klasik dikaji secara empiris dengan pisau metodologi
yang tajam. Disana ia juga mempelajari kesejarahan Islam di Indonesia,
disamping buku-buku besar karya orientalis Barat seperti karya Emile Durkheim.
Prinsip islam
tradisional yang dilakukan oleh Abdurrahman wahid dalam menghadapi dan
menyikapi persoalan-persoalan kemasyarakatan adalah sebuah prinsip klasik yang
diajarkan dalam organisasi Nahdlatul ‘Ulama yaitu doktrin ahlussunah wal
jama’ah yang dirumuskan antara lain dengan sikap tawassuth (moderat), tasamuh
(toleran) dan i’tidal (adil) dalam berinteraksi dengan orang lain. Atau
lebih spesifik lagi bahwa pemikiran dan perilaku Abdurrahman wahid sebagi sifat
neo-modernismenya diungkapkan oleh fachry Ali dan Bachtiar Effendi.
Dengan semangat
dan jiwa kebangsaannya, Abdurrahman wahid tampil sebagai seorang bangsawan yang
demokrat dan tidak terlalu mempersoalkan formalisme islam sebagai simbol
perjuangan politiknya. Dia beranggapan bahwa dalam dunia demokrasi, islam
merupakan salah satu bagian dalam proses perjalanan politik di Indonesia di
samping unsur-unsur lainnya.
Wacana
pemikiran yang dilontarkan Abdurrahman wahid sebetulnya merupakan wacana yang
bisa di sejajarkan dengan Bung Karno atau Bung Hatta, artinya perjuangan yang
dilakukannya merupakan perwujudan dari penegakan cita-cita kemerdekaan negara
indonesia. Namun, apabila dilihat dari sisinya sebagai seorang kyai dan di
sejajarkan dengan Mohammad Natsir, KH. Wahab Hasbullah, KH. Idgham Chalid, atau
juga mungkin ayahnya, KH. Wahid Hasyim dan politisi-politisi islam lainnya,
maka corak pemikirannya tentang islam dan negara menjadi sesuatu yang
kontroversial.
Abdurrahman Wahid
sering mengakui bahwa pemikiran dan gagasan-gagasannya tentang demokrasi
diilhami dari pemikiran Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi yang beragama
hindhu, Sulak Sivaraksa dari Thailand yang beragama Budha, atau Ali Abdul Roziq, yang hampir semua bukunya dilarang
dibaca di Mesir.
Tanpa
menafikan aspek-aspek pemikiran lainnya,
dari pemikiran diatas jelas terlihat bahwa pemikiran Abdurrahman wahid yang
digagas dalam kondisi riil masyarakat indonesia merupakan telaah panjang dan
akumulasi atas khasanah pemikiran tradisional, konservatif, eksklusif, dan
fundamentalis denagn pola pemikiran yang modern, moderat, inklusif dan
sekaligus liberal.
3.
AMIEN RAIS DAN PEMIKIRANNYA
3.1 Riwayat Hidup
Amien Rais
Amien Rais yang
dikenal sebagai pakar politik ini lahir di solo, Jawa Tengah tanggal 26 April
1944. Ia merupakan putra kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Syuhud Rais
adalah seorang tokoh muhammadiyah di Surakarta yang menjadi kepala kantor
pendidikan agama depag Surakarta dan ibunya, Sudalmiyah yang merupakan seorang
guru juga selama 20 tahun menjabat sebagai ketua Aisyiyah Surakarta, organisasi
wanita Muhammadiyah.
Amien Rais
tumbuh dalam keluarga Muhammadiyah yang kental. pengalaman pada masa kecilnya
disolo berjalan sebagaimana pola asuh keluarga santri. Bocah kecil yang belum
baligh ini harus mulai menjalankan sholat 5 waktu dengan ketat. Ibunya,
sudalmiyah mengenalkan agama kepadanya sejak kecil dengan kewajiban amien rais
untuk bangun pukul 04.00 pagi guna menjalankan ibadah sholat shubuh.
Keluarga Syuhud
Rais merupakan keluarga yang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap
pendalaman keagamaan dan menjunjung tinggi pendidikan.dalam bimbingan
orangtuanya, Amien Rais memulaai pendidikan formal pada sekolah dasar
Muhammadiyah solo dan lulus pada tahun 1956. Kemudian, ia disekolahkan di SMP
Muhammadiyah solo sambil belajar agama pada pesantren Mamba’ul Ulum dan
pesantren Al Islam. Setelah tamat SMP tahun 1959, Amie Rais melanjutkan
pendidikan formalnya pada SMA Muhammadiyah solo dan selesai pada tahun 1962.
Ketika hendak
melanjutkan study ke perguruan tinggi, ia memilih jurusan hubungan
internasional FISIP Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia juga merangkap
kuliah di fakultas tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun pendidikannya
di IAIN Sunan Kalijaga terpaksa tidak terselesaikan karena adakeputusan
pemerintah saat ini melarang mahasiswa berkuliah ganda.
Jenjang
pendidikan Amin Rais setelah menyelesaikan study sarjananya dari UGM pada tahun 1968 di tempuhnya di Amerika
Serikat. Ia mengikuti program pendidikan pasca sarjana di University of
Notre Dame, indiana, Amerika dengan
menekuni study tentang Uni Soviet dan eropa timur, dan selesai pada tahun 1974
dengan gelar M.A. selanjutnya ia mengikuti program dokter di politikal science,
University of chichago. Gelar Ph.D diraihnya melalui disertasi dengan judul
“The Moslem Brotherbood in Egypt: It Rise. Demise, and Resurgence” (ikhwanul
muslimin di mesir: kelahiran, keruntuhan dan kebangkitan kembali).
Kontribusi
pemikiran Amin rais tampak terlihat dari banyaknya tulisan-tulisan yang telah
dibuatnya . umumnya karya tulisnya dituangkan dalam bentuk artikel, editing,
dan kata pengantar di berbagai buku.
3.2. Aspek dan Pola Pemikiran Amien Rais
Memahami
pemikiran Amien Rais bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mengetahui dan
memahaminya, makaa kita tidak akan lepas dari perilaku daan sepak terjang yang
selama ini dilakukannya. Disamping melalui hasil karya ilmiyah yang sudah
banyak dihasilkannya selama ini. Seperti halnya
Abdurrahman Wahid.
Pendidikan
agama yang ditanamkan orang tua kepada dirinya telah membentuk pribadi Amin
Rais menjadi sosok yang teguh dan senantiasa berpegang pada islam sebagai
pondasi yang mengakar terhadap pemikiran serta segala aktivitas yang
dilakukannya.wacan dan pemikiran yang diperolehnya ketika belajar ibarat ia
elaborasikan dengan wacana keislaman yang sudah sangat mengental dalam dirinya,
sehingga lahirlah tokoh berpikiran modern yang akan merasa “gerah” tatkala
melihat sebuah kemungkaran.
Amien Rais
mengungkapkan bahwa menegakkan tugas kembar setiap manusia mukmin amar ma’ruf
nahi munkar merupakan wujud menciptakan masyarakat secara multidimensional,
dimana ketika hendak melakukan reaktualisasinya harus langsung merujuk kepada
Al-Qur’an, karena Al-Qur’an bagi orang beriman merupakan sosiologi kebenaran
(sociology of trut), yang berbeda dengan sosiologi kebenaran lainnya seperti
model libertarian, Marxiane, Humanis dan Eksistensialis dan lain- lainnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Indonesia adalah negara
yang beragam, baik itu dari sisi agama,
bahasa, budaya, adat-istiadat, pakaian maupun kebiasaan. Selain itu Indonesia adalah
negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, yang mana hal ini tentu menyimpan
banyak pertanyaan, khususnya bagi para pemerhati filsafat. perkembangan
filsafat Islam Indonesia sangat berkaitan dengan sejarah awal Islam masuk ke
Indonesia yang dalam teori umum selalu diperpegangi kuatnya daya tarik dari
luar Indonesia sendiri khususnya kawasan India dan Timur Tengah. bahkan menurut
studi yang dilakukan Azyurmardi Azra setidaknya ada dua teori, yaitu 'teori
perniagaan' dan 'teori sufi', akan tetapi nampaknya Azra lebih memegangi bahwa
'teori sufi'lah yang paling dominan dibanding 'teori perniagaan' dalam
pengembangan Islam di wilayah Nusantara tersebut.
Dalam perkembangannya Islam Indonesia mempunyai macam corak pemikiran. Diantanya Neo modernisme,
yaitu pemikiran keislaman yang menggabungkan dua aliran modernisme dan tradisionalisme,
tokohnya adalah Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid. Sosialisme demokrat,
yaitu gerakan yang melihat keadilan sosial dan demokrasi sebagai unsur pokok
Islam. Tokoh-tokohnya: Dawam Raharjo, Adi Sasono, Kuntowijoyo. Universalisme,
gerakan pemikiran Islam yang memandang Islam sebagai perangkat nilai alternatif
dari kemerootan nilai-nilai Barat. Tokoh-tokohnya adalah: Amien Rais,
Jalaluddin Rahmat, dan A.M. Saefudin. Neo revivalis, sering dikatakan
dengan gerakan Ikhwan al-Muslimin, dalam beberapa organisasi seperti Hamas,
Hizbut Tahrir. Front Pembela Islam(FPI) Majelis Mujahidin. Meski mereka
berbeda-beda, tetapi secara umum mereka adalah kelompok yang “menjaga jarak”
dengan peradaban Barat, Barat adalah musuh. Maka simbol-simbol identitas dan
peradaban senantiasa digunakan dalam kesadaran keberagamannya, misalnya
berjenggot, bersorban, dan lain-lain.
B.
Saran dan Rekomendasi
Semua pemikiran tokoh pembaruan islam khususnya dalam makalah ini menujukkan
agar umat islam bisa lebih maju dan bisa menerima hal yang rasional untuk
menghadapi perkembangan manusia dan zaman pada saat ini, tapi yang perlu kita
garis bawahi apa yang telah dituangkan oleh para tokoh pembaru islam atau
gagasan-gagasan yang telah mereka buat harus bisa kita filter dan kritisi tidak
semata-semata harus kita telaah semua atau kita sepakati semua apa pendapat
mereka, dalam kata lain kita harus bisa mengambil hal yang baik,(secara
rasionalis dan agamis), ataupun sesuai dengan nilai-nilai islam, seperti halnya
semangat mereka dalam perubahan menuju yang lebih baik. Dan mengembalikan peran
manusia dibumi sebagai kholifah fil ardi, dan mengambil
kembali Keilmuan-keilmuan yang telah diukir oleh ulama-ulama terdahulu,
karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu yang membuat zaman ini berkembang.
[1] Ikhsan Ya’qub.
http://ikhsanyaqub.blogspot.com/2013/07/bentuk-bentuk-filsafat-islam-di.html.
Diakses 27 November 2014
[2] Karena Maulana Malik Ibrahim wafat pada
tahun 1419 M, maka pada tahun 1421 M dikirim seorang penyebar Islam baru yang
bernama AHMAD ALI RAHMATULLAH dari
Negeri Champa (sekarang daerah vietnam selatan) Beliau adalah anak SYEKH IBRAHIM ASMARAKANDI yang menjadi
menantu Sultan Campha. Pemilihan Ahmad Ali Rahmatullah yang nantinya sering
dipanggil RADEN RAHMAT dan kelak kita
kenal dengan nama Sunan Ampel. (Agus Sunyoto dalam diskusi
Atlas Walisongo Youtube)
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah
Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 7-11
[4] Ibid., hlm.
256-257
[5] Ibid., hlm.
307-313
[7] Ibid., hlm.
172-173
[8] Ibid., hlm.
181-182
[9] Ibid., hlm.
187-189
[10] Ibid., hlm.
192-193
[11] Ibid., hlm.
198-199
RSS Feed
Twitter
11:31
Fatchur blog
Posted in

0 comments:
Post a Comment